Universitas Bangka Belitung

 

KELAS A JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN

NO.

NAMA MAHASISWA

NIM

1.

ACHMAD ZHAFRAN

2061311002

2.

AJIE PRAYOGA

2061311005

3.

ANGGA PRASETIA

2061311006

4.

AYU SYAFITRI

2061311008

5.

DINNI OKTAWAHYUNI

2061311011

6.

DOBI IRAWAN

2061311012

7.

ERIN MEILANI

2061311013

8.

FAHRIAN HAFIZ

2061311014

9.

FENNY WIDIYANTHI

2061311015

10.

JAYA SAMPUTRA F

2061311018

11.

JENY SETIAWAN

2061311019

12.

KARTIKA

2061311021

13.

LOKITA KENCANA S

2061311022

14.

MEKA ANDRIASTUTI LESTARI

2061311025

15.

RADJA UMAN

2061311030

16.

NERI RIZKIKA

2061311028

17.

QODRUL KHOLIQ

2061311029

18.

RANDIKA AKBAR

2061311032

19.

SATRIO YULIANSYAH

2061311036

20.

TIO AREZKI

2061311037

21.

YULIANA

2061311042

 

KELAS B JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN

NO.

Nama Mahasiswa

NIM

1.

ABDAN MUSHABBIH

2061311001

2.

ADHITYA NUGRAHA

2061311003

3.

AGUSTI

2061311004

4.

ARDIANSYAH

2061311007

5.

DANU BIMA PRATAMA

2061311009

6.

DARA NOVERA JUMITA

2061311010

7.

ILHAFURROIHAN APRILI

2061311016

8.

INDRI CLAUDIA TAHITU

2061311017

9.

KAMARUDIN

2061311020

10.

MARTIADININGSIH

2061311023

11.

MAWAR INDAH K.S.S

2061311024

12.

MERRY AZHARI

2061311026

13.

MUHAMMAD FAJAR

2061311027

14.

RAJU MUSLIMIN

2061311031

15.

RIZKI EKA ARIFIANTO

2061311033

16.

RIZKY ANDARI

2061311034

17.

SARTILLI

2061311035

18.

TRI OKTADIANTI

2061311038

19.

TURJAUNAH

2061311039

20.

ULFA DWINDA ICAS

2061311040

21.

VEGA LESTARI

2061311041

Dosen Pembimbing Akademik Mahasiswa Budidaya Perairan Universitas Bangka Belitung 

Dosen pembimbing Akademik : Eva Prasetiyono, S.Pi, M.Si

  1. Martiadiningsih
  2. Adhitya Nugraha
  3. Mawar Indah K.S.S
  4. Jaya Samputra F
  5. Merry Azhari
  6. Raju Muslimin

Dosen Pembimbing Akademik : Ardiansyah Kurniawan, S.Pi, MP

  1. Tri Oktadianti
  2. Muhammad Fajar
  3. Dinni Oktawahyuni
  4. Angga Prasetia
  5. Agusti
  6. Sartilli

Dosen pembimbing Akademik : Denny Syaputra, S.Pi, M.Si

  1. Fenny Widiyanthi
  2. Rizky Andari
  3. Indri Claudia Tahitu
  4. Ilhafurroihan Aprili
  5. Turjaunah
  6. Danu Bima Pratama

Dosen Pembimbing Akademik : Andri Kurniawan, S.Pi, M.Si

  1. Dara Novera Jumita
  2. Achmad Zhafran
  3. Yuliana
  4. Randika Akbar
  5. Fahrian Hafiz
  6. Abdan Mushabbi H

Dosen Pembimbing Akademik : Euis Asriani, S.Si, M.Si

  1. Kartika
  2. Qodrul Kholiq
  3. Meka Andriastuti Lestari
  4. Satrio Yuliansyah
  5. Rizki Eka Arifianto
  6. Erin Meilani
  7. Lokita Kencana S

Dosen pembimbing Akademik : Diana Anggraeni, SS, M.Hum

  1. Neri Rizkika
  2. Jeny Setiawan
  3. Kamarudin
  4. Ulfa Dwinda Icas
  5. Ajie Prayoga

Dosen Pembimbing Akademik : Suci Puspita, S.Pi, M.Si

  1. Vega Lestari
  2. Dobi Irawan
  3. Ayu Syafitri
  4. Tio Arezki
  5. Ardiansyah
  6. Radja Uman

Selamat Datang Mahasiswa Baru

Visi Program Studi Budidaya Perairan
Menjadi pusat pendidikan, penelitian dan pengembangan teknologi budidaya perairan pada tahun 2025 yang berbasis pemanfaatan sumberdaya perairan lokal dengan didasarkan pada keunggulan mental, moral dan intelektual.

Misi Program Studi Budidaya Perairan

  1. Menyelenggarakan pendidikan tinggi dibidang budidaya perairan khususnya dan perikanan pada umumnya melalui pengajaran, penelitian, serta pengembangan riset dan teknologi terapan.
  2. Mengembangkan sumber daya manusia khususnya pada bidang budidaya perairan yang bersendikan pada keunggulan mental, moral dan intelektual.
  3. Menyelenggarakan pendidikan tinggi sarjana yang fokus pada pengembangan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam untuk menjawab tantangan dinamika kemajuan sains dan teknologi akuakultur global yang adil, berkelanjutan dan ramah lingkungan
  4. Mendayagunakan keunggulan potensi sumber daya perairan lokal untuk kesejahteraan  masyarakat melalui pengajaran, penelitian, dan pengabdian sebagai bentuk dari tridharma perguruan tinggi.

Tujuan Program Studi Budidaya Perairan
1. Menghasilkan pendidikan perikanan yang bermutu melalui pengajaran, penelitian, serta pengembangan riset dan teknologi terapan bagi masyarakat dibidang budidaya perairan.
Menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dibidang budidaya perairan serta keunggulan mental, moral dan intelektual.

  1. Menghasilkan lulusan sarjana yang berjiwa entrepreneurship sehingga dapat menjadi penggerak untuk kemajuan sektor perikanan di masyarakat, bangsa, dan negara dalam mencapai nation competitiveness.
  2. Menghasilkan keunggulan pada sektor budidaya perairan, baik sumber daya manusia maupun produk perikanan budidaya yang dapat bermanfaat bagi masyarakat.
  3. Mengembangkan potensi budidaya perairan berbasis keunggulan sumber daya lokal.

Sasaran Program Studi Budidaya Perairan

  1. Terlaksananya tri dharma perguruan tinggi yang berkualitas melalui pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian masyarakat dengan pengembangan riset dan teknologi terapan di bidang budidaya perairan.
  2. Terciptanya sumber daya manusia yang unggul dalam bidang budidaya perairan berbasis keunggulan mental, moral dan intelektual.
  3. Terciptanya lulusan yang berjiwa entrepreneurship dalam bidang budidaya perairan khususnya dan umumnya pada sektor perikanan.
  4. Terciptanya produk budidaya perairan yang unggul sehingga dapat bermanfaat bagi masyarakat.
  5. Berkembangannya potensi budidaya perairan lokal sebagai bagian terintegrasi dalam pengembangan sektor perikanan nasional

Industrialisasi Perikanan Budidaya
Oleh : Eva Prasetiyono, S.Pi, M.Si
Dosen Budidaya Perairan Universitas Bangka Belitung

 

PERIKANAN sebagai ruh utama negara Indonesia yang kaya akan sumberdaya perairan saat ini terus bergeliat. Kegiatan-kegiatan produksi ikan terus digalakkan dan ditingkatkan.  Akuakultur yang merupakan ujung tombak masa depan perikanan di Indonesia juga semakin terus dikembangkan. Beberapa program-program dan bantuan-bantuan yang mendukung kegiatan akukultur acapkali diguyurkan ke para pembudidaya ikan (akuakulturis) baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Namun walaupun kegiatan akuakultur semakin terus dikembangkan dan ditingkatkan, ada kelemahan mendasar yang kurang mendapatkan perhatian utama yaitu masalah pemasaran. Masalah pemasaran menjadi sesuatu yang sangat krusial karena hasil produksi berupa ikan hasil budidaya terutama jenis ikan air tawar selalu terkendala dengan sulitnya pemasaran.

Mayoritas utama para pembudidaya ikan yang ada di Bangka Belitung adalah pembudidaya ikan air tawar. Sangat sedikit yang tergolong pembudidaya ikan air laut. Maraknya pembudidaya ikan tawar karena budidaya ikan air tawar lebih mudah, resiko lebih kecil dan modal atau biaya operasional tidak terlalu besar dibandingkan budidaya ikan laut. Padahal dari sisi pembeli, mayoritas pembeli lebih memilih dan menyukai ikan laut dibandingkan air tawar. Oleh karena itu, sebuah fenomena yang nyata terjadi ketika maraknya jumlah pembudidaya ikan yang menghasilkan komoditi berupa ikan air tawar tapi tidak didukung oleh keinginan besar masyarakat untuk membeli ikan hasil budidaya tersebut.

Fenomena hasil produksi dari kegiatan akuakultur yang sulit dalam memasarkannya merupakan masalah yang jamak dihadapi oleh para pembudidaya ikan. Banyak hal yang bisa menjadi penyebabnya. Beberapa di antaranya yaitu faktor kesukaan (organoleptik) masyarakat dan kebiasaan yang lebih memilih ikan laut daripada air tawar terutama didaerah kepulauan seperti Bangka Belitung. Faktor lainnya yaitu banyaknya pilihan barang subtitusi protein hewani bagi masyarakat. Selain itu, Faktor utama lain yang tak kalah pentingnya yaitu ketidak jelasan saluran pemasaran yang menjadi sebab mandegnya kegiatan akuakultur pasca produksi (pasca panen).
Sulitnya pemasaran ikan air tawar haruslah menjadi perhatian serius. Bila kondisi ini terus dibiarkan maka dua hal yang paradoks akan terjadi.

Disatu sisi Kalangan pemerintah melakukan effort dalam upaya peningkatan produksi perikanan budidaya, disisi lain ikan hasil produksi yang dibudidayakan oleh para pembudidaya ikan kurang terserap dengan sempurna di pasaran karena lemahnya dan ketidak jelasan pasar dan saluran pemasaran. Bahkan terlalu bombastis ketika digembar-gemborkan peningkatan produksi perikanan budidaya sebesar 353 persen hingga tahun 2015 oleh kementerian terkait namun tanpa didukung oleh perhatian terhadap pemasaran produk perikanan.
Beralihnya tonggak kepemimpinan di kementerian keluatan dan perikanan dari Fadel Muhammad ke Sharif Cicip Sutarjo ternyata berimbas pada arah kebijakan dalam pengembangan perikanan.

Di era Fadel, fokus utama pengembangan perikanan adalah peningkatan hasil produksi perikanan budidaya sebesar 353 persen. Pada era Cicip syarif Sutarjo kebijakan “jargon” baru disektor perikanan yaitu pencanangan industrialisasi perikanan.

Industrialisasi perikanan secara konsep sangat baik. Industrialisasi perikanan merupakan upaya untuk menjadikan sektor perikanan menjadi sebuah kegiatan industri dan berorientasi pada skala industri. Industrialisasi perikanan mengembangkan sektor perikanan secara terintegrasi dari hulu ke hilir. Integrasi ini akan menciptakan kesetaraan usaha perikanan hulu dan hilir.

Konsep industrialisasi perikanan yang coba dikembangkan oleh Cicip Sutarjo yaitu program industrialisasi perikanan yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk  perikanan (value added), sekaligus meningkatkan daya saing yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi.

Industrialisasi perikanan akan menjadikan hasil-hasil perikanan termasuk hasil perikanan budidaya tawar menjadi lebih memiliki nilai jual kalau konsep integrasi hulu hilir ini berjalan dengan baik. Melalui industrialisasi perikanan, hasil budidaya akan dijadikan lebih memiliki nilai tambah oleh industri pengolahan hasil (industri hulu) sehingga disamping nilai jualnya tinggi juga produk tersebut akan menjadikannya berkualitas ekspor.

Konsep industrialisasi perikanan sebenarnya dapat menjadi sebuah solusi atas maraknya hasil produksi yang tidak terserap oleh konsumen. Konsep industrialisasi menuntut hasil produksi harus kontinyu dan berkualitas. Selain itu konsep industrialisasi harus didukung oleh upaya pengembangan industri hilir yang membeli dan mengolah ikan hasil budidaya para pembudidaya ikan.

Secara konseptual konsep ini seolah-olah memberikan semangat kepada para pembudidaya ikan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan meningkatkan kualitas produksinya. Namun konsep ini hanya akan berjalan bila ada supervisi kepada para pembudidaya ikan, support fasilitas, sarana dan prasarana produksi, serta support pembangunan atau investor yang mau membangun industri hilir.
Pemasalahan dalam perikanan budidaya pada dasarnya cukup kompleks.

Selain permasalahan pemasaran, permasalahan lain yang ujung-ujungnya terkait dengan pemasaran adalah permasalahan modal dan teknologi produksi yang berakibat mandegnya kontinyuitas. Katakanlah misalnya industri hilir atau pengolahan hasil perikanan ataupun saluran pemasaan hasil budidaya sudah jelas dan bisa menyerap hasil budidaya namun tidak didukung oleh kontinyuitas produksi oleh para pembudidaya ikan maka ujung-ujungnya tidak akan maju dan berkembang pula sektor perikanan. Kenyataannya, kompeksnya persoalan saat ini yakni disamping ketidak jelasan industri hilir, industri hulu pun masih belum mapan. Maka tatkala berbicara tentang industialisasi perikanan tanpa ada pembenahan berbagai sisi maka konsep industrialisasi tersebut sulit akan berjalan dengan baik.

Sektor perikanan khususnya perikanan budidaya tidak bisa lepas dari dukungan pemerintah. Hal ini dikarenakan pelaku utama dunia perikanan sebagian besar dilakukan oleh para pembudidaya yang skala usahanya menengah kebawah. Sebagaimana diketahui secara umum bahwa karakteristik utama dari kegiatan usaha menengah kebawah adalah butuhnya peran pemerintah dalam memberikan bantuan. Terkait dengan industrialisasi perikanan maka proses industrialisasi pada kegiatan budidaya hanya akan berjalan bila ada peran pemerintah didalamnya. Peran pemerintah dalam bentuk bantuan ataupun supervisi kepada paa pembudidaya ikan ataupun peran dalam mengundang investor dalam membangun industri hilir.

Persoalan pemasaran yang acapkali menjadi momok para pembudidaya ikan air tawar dengan adanya industrialisasi perikanan seharusnya bisa memberikan solusi. Namun konkrit atau tidaknya solusi kembali kepada pemerintah pusat yang mencanangkan industrialisasi ini terrmasuk pemerintahan daerah. Yang jelas apapun konsep atau strategi yang dicanangkan oleh pemerintah jika hasilnya tidak dirasakan oleh para pembudidaya ikan sebagi pelaku utama sektor perikanan budidaya sepertinya itu adalah konsep yang gagal.

Sektor perikanan budidaya saat ini bukanlah sebuah kegiatan yang tanpa orientasi. Bila mengacu pada tujuan penyelenggaraan negara yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat maka seyogyanya pula kegiatan perikanan budidaya mampu membuat sejahtera masyarakat termasuk para pembudidaya ikan. Saat ini semangat masyarakat untuk membudidayakan ikan cukup tinggi. Berbagai kalangan masyarakat mencoba untuk membudidayakan ikan baik sebagai usaha pokok maupun sampingan.

Namun sekali lagi mayoritas komoditi ikan yang dibudidayakan oleh sebagian besar masyarakat adalah komoditi air tawar yang cukup sulit untuk mendapatkan pasar yang baik. Jika semangat tersebut tidak mendapatkan dukungan rill dari pihak-pihak terkait maka perkembangan perikanan budidaya akan semakin stagnan. Industrialisasi perikanan yang digembar-gemborkan oleh pemerintah diharapkan mampu berbuat banyak dan berpihak pada para pembudidaya ikan yang notabene adalah masyarakat Indonesia dan berhak untuk hidup sejahtera.

*) Dimuat di Kolom Opini Surat Kabar Bangka Pos (Kompas Group) tanggal 22 Januari 2013

Eks Tambang Timah dan Kesehatan Manusia
Oleh: Eva Prasetiyono, S.Pi, M.Si
Dosen Budidaya Perairan Universitas Bangka Belitung

BERBICARA tentang pertimahan di Bangka Belitung tak kan pernah berakhir. Timah sudah merupakan bagian tak terpisahkan bagi masyarakat negeri kepulauan ini. Sejak berabad lalu hingga sekarang, Bangka Belitung sebagai daerah pertambangan timah terbesar di Indonesia belum tersaingi. Kegiatan Eksploitasi tambang pun secara massif terus berpendar hingga pelosok daratan dan lautan. Dampak sosial dan ekonomi dari kegiatan tambang ini cukup besar.

Tidak sedikit anak-anak usia sekolah yang lebih memilih bertambang dibandingkan untuk mencerdaskan diri. Masyarakat banyak yang beralih melakukan kegiatan usaha tambang dengan meninggalkan lahan pertanian atau perkebunannya. Keuntungan yang besar dan instan menjadi dasar masyarakat beralih menjadi  petambang.

Dewasa ini kegiatan pertambangan terus berlangsung dan cenderung semakin marak di masyarakat. Masyarakat luar daerah banyak pula yang berbondong-bondong datang ke Bangka Belitung untuk mengais rezeki dengan menjadi penambang timah. Regulasi tentang pertambangan timah yang cenderung longgar dan adanya peran oknum pejabat serta belum adanya peraturan pasti tentang penggunaan lahan untuk pertambangan menjadikan kegiatan pertimahan semakin menggurita. Akibatnya daerah-daerah yang semustinya tidak diperkenankan untuk ditambang seperti : daerah pemukiman atau daerah penangkapan ikan tetap ada kegiatan pertambangan dilakukan.

Timah merupakan hasil bumi dan kekayaan alam Bangka Belitung. Tidak salah setiap masyarakat menikmati hasil bumi tersebut. Hanya saja ada regulasi dan aturan yang harus ditaati agar kegiatan pertambangan timah tidak berlangsung sporadis dan merugikan bagi kehidupan masyarakat terutama bagi anak cucu kelak.

Dibalik keuntungan hasil tambang yang besar ternyata tambang menyisakan suatu permasalahan yang berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan pada setiap kegiatan pertambangan baik didaratan maupun lautan menyisakan kandungan logam berat berbahaya bagi mahluk hidup dan manusia. Logam berat pada dasarnya sudah terdapat di perut bumi. Logam berat muncul ke permukaan bumi salahsatunya diakibatkan oleh proses penyingkapan perut bumi oleh aktivitas tambang manusia. Akibatnya pada daerah daratan, kolong-kolong bekas tambang timah yang digenangi air dipastikan terkandung logam berat pada air tersebut. Begitupula halnya pada daerah perairan laut. Aktivitas tambang di laut mengakibatkan logam berat tersingkap keatas permukaan air laut dan pada perairan laut daerah tambang tersebut dimungkinkan terkandung logam berat.

Penelitian LIPI dan UBB menemukan bahwa logam Fe, Al, Mn, Zn dan Pb adalah logam berat terbesar yang terdapat di perairan kolong. Butuh waktu puluhan tahun ( > 20 tahun), logam berat di air kolong akan hilang secara alami di perairan. Hilangnya logam berat ini dikarenakan logam berat tersebut mengendap di sedimen perairan.

Selain itu sedimen perairan dengan usia kolong yang tua mengandung bahan organik dengan gugus fungsi tertentu yang mampu mengikat logam berat dengan ikatan kompleks dan chelate sehingga penggunaan kolong yang berumur tua aman digunakan untuk aktivitas manusia.

Permasalahannya adalah ketika kolong yang umurnya masih muda digunakan untuk aktivitas manusia seperti untuk minum dan kegiatan perikanan/pertanian. Kolong muda mengandung logam berat yang cukup tinggi dan airnya asam.
Logam berat pada konsentrasi yang tinggi bila masuk kedalam tubuh manusia akan menyebabkan kematian atau gangguan kesehatan pada manusia. Pada konsentrasi yang tidak terlalu tinggi atau masih dalam ambang batas toleransi tubuh manusia, logam berat akan terakumulasi didalam tubuh. Logam berat merupakan senyawa yang tidak dapat terdegradasi dan memiliki sifat toksik dan karsinogenik. Beberapa literatur menyebutkan bahwa gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh logam berat yaitu menimbulkan penghambatan sintesis hemoglobin, disfungsi pada ginjal, sendi dan sistem reproduksi, sistem kardiovaskular, dan kerusakan akut dan kronis dari sistem saraf pusat (SSP) serta sistem saraf perifer (PNS). Efek lainnya termasuk kerusakan pada saluran pencernaan (GIT) dan saluran kemih, gangguan neurologis, serta kerusakan otak parah dan permanen.

Penggunaan air kolong yang berusia muda tanpa ada proses treatmen sangat tidak dibenarkan. Hal ini dikarenakan logam berat tersebut akan masuk kedalam tubuh manusia dan terakumulasi di beberapa organ manusia, seperti : hati, ginjal dan usus. Dampak jangka panjang yang timbul adalah penyakit-penyakit yang berhubungan dengan disfungsi organ tubuh manusia, contohnya : stroke. Maka dalam memanfaatkan kolong muda untuk kegiatan manusia perlu ada treatmen-treatmen tertentu agar air kolong terbebas dari bahan pencemar logam berat dan keasaman airnya menjadi rendah.

Air di Bangka Belitung yang jumlahnya berlimpah sangat berpotensi untuk dijadikan media bagi budidaya ikan. Namun pemanfaatan air kolong khususnya kolong muda untuk kegiatan perikanan patut mendapat perhatian serius. Termasuk pemanfaatan ikan laut dari hasil penangkapan pada daerah pertambangan laut. Sifat logam berat yang tidak dapat terdegradasi dan mengakumulasi tubuh harus menjadi sebuah pertimbangan.

Namun hal penting yang harus ditekankan adalah pada kolong-kolong yang berusia tua (diatas 20 tahun), pemanfaatan air kolong untuk kegiatan rumah tangga ataupun kegiatan perikanan aman dilakukan. Karena logam berat pada kolong tua telah mengendap dan terakumulasi di dasar perairan. Logam berat tersebut terikat pada bahan organik sedimen sehingga di badan/kolom air, jumlah logam berat sangat rendah dan masih berada dibawah ambang batas penggunaan bagi kegiatan rumah tangga dan perikanan.  Khusus untuk pemanfaatan bagi kegiatan perikanan, hal mendasar yang harus jadi perhatian adalah spesies ikan yang digunakan pakan utmananya adalah pelet komersial dan tidak mengandalkan plankton sebagai pakan ikan. Karena bagi ikan yang makan plankton bisa jadi pada kolong tua logam berat tersebut masuk kedalam tubuh ikan melalui proses biomagnifikasi (rantai makanan).

Melihat besarnya dampak kesehatan dari kegiatan pertambangan ini, maka tidak salah kiranya pemerintah daerah memberikan perhatian serius untuk menangani masalah ini. Hal ini dikarenakan masalah tambang adalah masalah yang menyangkut multi aspek. Beberapa kasus struk atau kasus kesehatan yang berhubungan dengan disfungsi organ di Bangka Belitung yang acapkali terjadi perlu diteliti lebih lanjut apakah terkait dengan limbah logam berat yang memenuhi perairan Bangka Belitung.

Pemerintah Daerah khususnya pemerintah Provinsi sudah sejak lama berniat membuat aturan Rancangan Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang salahsatu poinnya tentang pengaturan wilayah untuk pemanfaatan bagi tambang. Aturan ini perlu terus didukung dan didorong untuk disahkan menjadi aturan yang mengikat. Hal ini penting salahsatunya adalah untuk meminimalisir dampak logam berat dari kegiatan tambang bagi kesehatan manusia. Kesadaran akan dampak bekas kegiatan tambang ini diharapkan mampu menjadikan manusia di Bangka Belitung terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan. Semoga!

*) Dimuat di Kolom Opini Surat Kabar Bangka Pos (Kompas Group) tanggal 16 Oktober 2012

BERBICARA tentang pertimahan di Bangka Belitung tak kan pernah berakhir. Timah sudah merupakan bagian tak terpisahkan bagi masyarakat negeri kepulauan ini. Sejak berabad lalu hingga sekarang, Bangka Belitung sebagai daerah pertambangan timah terbesar di Indonesia belum tersaingi. Kegiatan Eksploitasi tambang pun secara massif terus berpendar hingga pelosok daratan dan lautan. Dampak sosial dan ekonomi dari kegiatan tambang ini cukup besar.

Tidak sedikit anak-anak usia sekolah yang lebih memilih bertambang dibandingkan untuk mencerdaskan diri. Masyarakat banyak yang beralih melakukan kegiatan usaha tambang dengan meninggalkan lahan pertanian atau perkebunannya. Keuntungan yang besar dan instan menjadi dasar masyarakat beralih menjadi  petambang.

Dewasa ini kegiatan pertambangan terus berlangsung dan cenderung semakin marak di masyarakat. Masyarakat luar daerah banyak pula yang berbondong-bondong datang ke Bangka Belitung untuk mengais rezeki dengan menjadi penambang timah. Regulasi tentang pertambangan timah yang cenderung longgar dan adanya peran oknum pejabat serta belum adanya peraturan pasti tentang penggunaan lahan untuk pertambangan menjadikan kegiatan pertimahan semakin menggurita. Akibatnya daerah-daerah yang semustinya tidak diperkenankan untuk ditambang seperti : daerah pemukiman atau daerah penangkapan ikan tetap ada kegiatan pertambangan dilakukan.

Timah merupakan hasil bumi dan kekayaan alam Bangka Belitung. Tidak salah setiap masyarakat menikmati hasil bumi tersebut. Hanya saja ada regulasi dan aturan yang harus ditaati agar kegiatan pertambangan timah tidak berlangsung sporadis dan merugikan bagi kehidupan masyarakat terutama bagi anak cucu kelak.

Dibalik keuntungan hasil tambang yang besar ternyata tambang menyisakan suatu permasalahan yang berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan pada setiap kegiatan pertambangan baik didaratan maupun lautan menyisakan kandungan logam berat berbahaya bagi mahluk hidup dan manusia. Logam berat pada dasarnya sudah terdapat di perut bumi. Logam berat muncul ke permukaan bumi salahsatunya diakibatkan oleh proses penyingkapan perut bumi oleh aktivitas tambang manusia. Akibatnya pada daerah daratan, kolong-kolong bekas tambang timah yang digenangi air dipastikan terkandung logam berat pada air tersebut. Begitupula halnya pada daerah perairan laut. Aktivitas tambang di laut mengakibatkan logam berat tersingkap keatas permukaan air laut dan pada perairan laut daerah tambang tersebut dimungkinkan terkandung logam berat.

Penelitian LIPI dan UBB menemukan bahwa logam Fe, Al, Mn, Zn dan Pb adalah logam berat terbesar yang terdapat di perairan kolong. Butuh waktu puluhan tahun ( > 20 tahun), logam berat di air kolong akan hilang secara alami di perairan. Hilangnya logam berat ini dikarenakan logam berat tersebut mengendap di sedimen perairan.

Selain itu sedimen perairan dengan usia kolong yang tua mengandung bahan organik dengan gugus fungsi tertentu yang mampu mengikat logam berat dengan ikatan kompleks dan chelate sehingga penggunaan kolong yang berumur tua aman digunakan untuk aktivitas manusia.

Permasalahannya adalah ketika kolong yang umurnya masih muda digunakan untuk aktivitas manusia seperti untuk minum dan kegiatan perikanan/pertanian. Kolong muda mengandung logam berat yang cukup tinggi dan airnya asam.
Logam berat pada konsentrasi yang tinggi bila masuk kedalam tubuh manusia akan menyebabkan kematian atau gangguan kesehatan pada manusia. Pada konsentrasi yang tidak terlalu tinggi atau masih dalam ambang batas toleransi tubuh manusia, logam berat akan terakumulasi didalam tubuh. Logam berat merupakan senyawa yang tidak dapat terdegradasi dan memiliki sifat toksik dan karsinogenik. Beberapa literatur menyebutkan bahwa gangguan kesehatan yang diakibatkan oleh logam berat yaitu menimbulkan penghambatan sintesis hemoglobin, disfungsi pada ginjal, sendi dan sistem reproduksi, sistem kardiovaskular, dan kerusakan akut dan kronis dari sistem saraf pusat (SSP) serta sistem saraf perifer (PNS). Efek lainnya termasuk kerusakan pada saluran pencernaan (GIT) dan saluran kemih, gangguan neurologis, serta kerusakan otak parah dan permanen.

Penggunaan air kolong yang berusia muda tanpa ada proses treatmen sangat tidak dibenarkan. Hal ini dikarenakan logam berat tersebut akan masuk kedalam tubuh manusia dan terakumulasi di beberapa organ manusia, seperti : hati, ginjal dan usus. Dampak jangka panjang yang timbul adalah penyakit-penyakit yang berhubungan dengan disfungsi organ tubuh manusia, contohnya : stroke. Maka dalam memanfaatkan kolong muda untuk kegiatan manusia perlu ada treatmen-treatmen tertentu agar air kolong terbebas dari bahan pencemar logam berat dan keasaman airnya menjadi rendah.

Air di Bangka Belitung yang jumlahnya berlimpah sangat berpotensi untuk dijadikan media bagi budidaya ikan. Namun pemanfaatan air kolong khususnya kolong muda untuk kegiatan perikanan patut mendapat perhatian serius. Termasuk pemanfaatan ikan laut dari hasil penangkapan pada daerah pertambangan laut. Sifat logam berat yang tidak dapat terdegradasi dan mengakumulasi tubuh harus menjadi sebuah pertimbangan.

Namun hal penting yang harus ditekankan adalah pada kolong-kolong yang berusia tua (diatas 20 tahun), pemanfaatan air kolong untuk kegiatan rumah tangga ataupun kegiatan perikanan aman dilakukan. Karena logam berat pada kolong tua telah mengendap dan terakumulasi di dasar perairan. Logam berat tersebut terikat pada bahan organik sedimen sehingga di badan/kolom air, jumlah logam berat sangat rendah dan masih berada dibawah ambang batas penggunaan bagi kegiatan rumah tangga dan perikanan.  Khusus untuk pemanfaatan bagi kegiatan perikanan, hal mendasar yang harus jadi perhatian adalah spesies ikan yang digunakan pakan utmananya adalah pelet komersial dan tidak mengandalkan plankton sebagai pakan ikan. Karena bagi ikan yang makan plankton bisa jadi pada kolong tua logam berat tersebut masuk kedalam tubuh ikan melalui proses biomagnifikasi (rantai makanan).

Melihat besarnya dampak kesehatan dari kegiatan pertambangan ini, maka tidak salah kiranya pemerintah daerah memberikan perhatian serius untuk menangani masalah ini. Hal ini dikarenakan masalah tambang adalah masalah yang menyangkut multi aspek. Beberapa kasus struk atau kasus kesehatan yang berhubungan dengan disfungsi organ di Bangka Belitung yang acapkali terjadi perlu diteliti lebih lanjut apakah terkait dengan limbah logam berat yang memenuhi perairan Bangka Belitung.

Pemerintah Daerah khususnya pemerintah Provinsi sudah sejak lama berniat membuat aturan Rancangan Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang salahsatu poinnya tentang pengaturan wilayah untuk pemanfaatan bagi tambang. Aturan ini perlu terus didukung dan didorong untuk disahkan menjadi aturan yang mengikat. Hal ini penting salahsatunya adalah untuk meminimalisir dampak logam berat dari kegiatan tambang bagi kesehatan manusia. Kesadaran akan dampak bekas kegiatan tambang ini diharapkan mampu menjadikan manusia di Bangka Belitung terhindar dari hal-hal yang tidak diharapkan. Semoga!

*) Dimuat di Kolom Opini Surat Kabar Bangka Pos (Kompas Group) tanggal 16 Oktober 2012

Blue Economy : Perikanan Budidaya Pro Lingkungan
Oleh : Eva Prasetiyono, S.Pi, M.Si
Dosen Budidaya Perairan Universitas Bangka Belitung

Berbagai sektor yang  terdapat dalam suatu negara, seiring dengan waktu sudah seharusnya terus maju dan berkembang. Karenanya perlu andil pemerintah dalam mengoptimalkan dan meningkatkan kualitas kegiatan setiap sektor sehingga kemajuannya dapat dirasakan masyarakat. Sektor perikanan adalah salahsatu sektor yang sejauh ini cukup berperan dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Pembukaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas individu, peningkatan nafkah dan pendapatan hidup, penambahan devisa melalui kegiatan ekspor impor adalah diantara peran sektor perikanan dalam pembangunan ekonomi. Perikanan juga menciptakan multiple effectyang menggerakkan sektor lain, seperti : sektor perdagangan, sektor industri bahkan sektor pendidikan yang terkait dengan riset-riset penelitian kampus dan serapan tenaga kerja terdidik. Apalagi saat ini perikanan selalu diarahkan ke proses industrialisasi berbasis ilmu dan teknologi yang akan semakin memacu dan menggerakan sektor-sektor lain untuk terlibat dalam proses industrialisasi tersebut.

Perikanan sebagai suatu kegiatan ekonomi memiliki muatan yang sangat penting dalam kemajuan negara dan kesejahteraan masyarakatnya. Perikanan merupakan kegiatan yang bersandarkan pada perairan mulai dari aktivitas pengelolaan perairan, budidaya, penangkapan, pemanfaatan hasil perairan hingga pengolahan hasil perikanan. Sebagai suatu kegiatan ekonomi, perikanan sudah seharusnya untuk terus dimajukan dan dikembangkan serta menjadi prioritas agar mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang positif.  Maka hal ini menuntut adanya inovasi dan kreativitas serta optimalisasi peran stake holder agar kegiatan perikanan tetap eksis dan bisa berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat suatu negara. Selain itu perikanan yang saat ini mengarah ke proses industrialisasi harus mampu menjaga keberlanjutan usaha dengan tetap memperhatikan keseimbangan dan kelestarian perairan. Berdasarkan hal inilah maka muncul konsep blue economy yang digagas oleh Cicip Sutardjo menteri kelautan dan perikanan.

Blue economy merupakan konsep yang mengoptimalkan sumberdaya perairan dengan tujuan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi melalui berbagai kegiatan yang inovatif dan kreatif dengan tetap menjamin keberlanjutan usaha dan menjaga kelestarian lingkungan. Optimalisasi yang mengkedepankan efisiensi merupakan prinsip konsepsi blue economy. Efisiensi mendorong adanya pengembangan investasi dan bisnis perikanan dengan tetap menjadikan lingkungan tetap lestari. Inti utama dari paradigmablue economy ini adalah kegiatan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan (pro ekosistem). Segala limbah yang muncul sebagai keluaran dari kegiatan perikanan harus berada dalam kondisi yang tidak mencemari tanah maupun perairan umum. Berbagai jenis limbah baik limbah kimia maupun limbah organik secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada habitat dan kehidupan ekosistem yang menjadi tempat buangan limbah dari kegiatan yang dilakukan. Oleh sebab itu, maka perlu ada ilmu dan teknologi dalam men-treatment keluaran limbah. Disinilah pentingnya sinergitas dengan kalangan akademisi. ilmuwan ataupun praktisi berkenaan dengan masalah limbah ini.

Pada industri akuakultur baik skala kecil, menengah maupun besar, limbah yang umumnya mencemari perairan berasal dari bahan organik sisa pakan ikan, penggunaan obat-obatan (chemotherapetic agent) untuk mengobati penyakit ikan dan penggunaan bahan kimia lainnya, misalkan desinfektan untuk men-treatment media budidaya ikan sebelum digunakan untuk kegiatan budidaya. Untuk mengatasi hal ini maka beberapa teknologi telah dikembangkan oleh kalangan akademisi dan peneliti, diantaranya yaitu penggunaan bahan alami atau bakteri probiotik untuk mengobati penyakit ikan dantreatment media budidaya serta penerapan teknologi IMTA (Integrated MultiTrophik level Aquaculture) yang menjadikan sisa pakan ikan berada dalam kondisi zero waste.

Pada industri perikanan lainnya seperti industri penangkapan dan pengolahan hasil perikanan, limbah dapat muncul akibat penggunaan bahan-bahan tambahan dalam meningkatkan nilai (value added) dari produk ikan. Segala limbah yang muncul baik dalam industri perikanan budidaya, perikanan tangkap maupun pengolahan selama ini kurang begitu diperhatikan oleh para pelaku usaha. Munculnya konsep blue economyyang dicanangkan oleh kementerian kelautan dan perikanan salahsatunya adalah untuk menegaskan dan mengingatkan kembali pentingnya pengelolaan limbah hasil dari kegiatan perikanan agar tidak mencemari lingkungan sehingga ekosistem lingkungan masih tetap terjaga.

Blue economy merupakan integrasi dari program industrialisasi perikanan yang sebelumnya digagas oleh kementerian yang sama. Industrialisasi perikanan merupakan model kegiatan usaha yang dibangun secara berkelanjutan (kontinyu) dengan berorientasi pada pasar ekspor. Syarat utama produk yang dijual dipasar ekspor salahsatunya adalah tracebility produk hasil perikanan harus terjaga dengan mengkedepankan biosekuritas dalam setiap proses kegiatan budidaya. Saat ini sudah ada semacam aturan yang dibuat dalam pasar global dan merupakan hasil konsorsium negara-negara perikanan dunia bahwa suatu produk perikanan akan diterima di pasaran suatu negara bila input kegiatan budidaya (media air, sarana dan prasarana), proses budidaya (pengobatan penyakit, pakan), dan output budidaya (ikan yang dihasilkan dan limbah budidaya) dilakukan sesuai dengan standar keamanan yang telah ditetapkan. Pada kegiatan penangkapan juga demikian, termasuk dalam kegiatan pengolahan hasil perikanan, prinsip HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) harus diterapkan. Di Indonesia pemerintah telah membuat semacam standar (SNI) untuk menjamin kualitas ikan baik dalam input, proses maupun output sesuai dengan kualitas standar yang ditetapkan.

Pada kegiatan budidaya ikan, CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) merupakan standar yang ditetapkan bagi para pembudidaya ikan untuk menjamin proses budidaya, kualitas ikan hasil budidaya dan output limbah dari kegiatan budidaya harus sesuai dengan standar yang ditetapkan. Secara internasional untuk kegiatan budidaya ikan, ada beberapa standar yang ditetapkan oleh lembaga sertifikasi internasional, misalkan : lembaga sertifikasi Global Aquaculture Alliance (GAA) yang mana standar yang ditetapkan oleh lembaga ini harus dipenuhi apabila ikan hasil budidaya mau dibeli oleh konsumen tujuan. Semua standar yang ada baik standar secara nasional maupun internasional salahsatu poin penting yang harus dipenuhi adalah keluaran limbah dari kegiatan harus tidak mencemari lingkungan atau merubah/merusak ekosistem alam. Hal ini relevan dengan konsepsi blue economy yang dicanangkan oleh pemerintah.

Blue economy sebenarnya adalah simbol kegiatan industri khususnya industri perikanan yang pro lingkungan. Walaupun sebenarnya tanpa konsep ini, para pelaku usaha perikanan sudah seharusnya untuk menerapkan kegiatan yang sesuai dengan standar keamanan lingkungan. Bagi pelaku usaha yang secara pemikiran sudah maju ataupun skala usahanya sudah sangat mapan penyelenggaraan kegiatan industri yang berwawasan lingkungan adalah sebuah hal wajib yang harus dilakukan. Disamping kaena kesadaran pribadi, hal lain yang menjadi penyebab salahsatunya karena tuntutan pasar (pembeli) yang sering mempersyaratkan kegiatan perikanan harus pro lingkungan, namun bagi pelaku usaha kecil dan menengah, pemikiran kearah tersebut belum menjadi prioritas.  Maka menjadi sebuah tugas besar bagi pihak-pihak tekait terutama kalangan pencetus program blue economy untuk peduli dan memperhatikan serta mengangkat usaha perikanan terutama skala kecil dan menengah agar usahanya semakin kreatif, inovatif, berkelanjutan serta pro ekosistem. Jika hal ini dapat terwujud maka blue economy yang terintegrasi dengan program industrialisasi perikanan akan berhasil memajukan sektor perikanan.

Di Bangka Belitung saat ini, kegiatan perikanan khususnya kegiatan perikanan budidaya mulai mengarah ke konsep budidaya yang pro lingkungan. Beberapa kolam atau tambak sudah mulai memperoleh Sertifikat CBIB. Hal ini berarti pembudidaya yang memperoleh sertifikat ini memiliki kewajiban salahsatunya adalah kewajiban untuk menjaga keluaran (output) budidaya agar tidak mengganggu ekosistem perairan. Ini merupakan poin positif bagi para pembudidaya ikan di Bangka Belitung dalam mengejewantahkan secara tidak langsung konsep blue economy. Namun sayangnya ketika sektor perikanan budidaya terus berbenah dalam menggiatkan sektor perikanan berwawasan lingkungan, ada sektor lain yang seringkali mengesampingkan kegiatan yang pro lingkungan. Beberapa kegiatan  pertambangan yang dilakukan tanpa upaya untuk recovery kerusakan yang muncul masih terus melanda wilayah Bangka Belitung. Sebuah paradoks memang. Dampak lahan yang rusak, air yang keruh dan kandungan logam berat di air akibat usaha tambang merupakan sebuah masalah. Namun mengutuk dan meratapi sebuah masalah bukan tindakan yang bijak. Ternyata sisi lain dari kegiatan pertambangan ini mendatangkan peluang bagi kegiatan perikanan khususnya akuakultur. Pemanfaatan air bekas tambang memang tidak serta merta dapat digunakan untuk menunjang kegiatan perikanan. Perlu ada treatment untuk kualitas air yang mengalami degradasi. Disinilah pentingnya ilmu dan teknologi. Dengan ilmu dan teknologi maka sinergi antara sektor perikanan dan pertambangan akan terwujud hingga akan memunculkan konsep blue economy baik disektor perikanan maupun pertambangan. Semoga saja.

Aquaculture’s Never Ending
Oleh : Eva Prasetiyono, S.Pi, M.Si
Dosen Budidaya Perairan Universitas Bangka Belitung

“Selama di Bumi masih ada air,
Maka akuakultur tak kan pernah berakhir”

Akuakultur merupakan kegiatan memelihara ikan dalam wadah yang terkontrol dengan tujuan mendapatkan profit atau keuntungan. Akuakultur sebagai sebuah kegiatan telah lama dilakukan oleh manusia. Sejak zaman sebelum masehi sampai dengan saat ini. Asal-usul mengenai kegiatan akuakultur terdiri atas banyak versi, ada yang mengatakan awal mula berasal dari Cina, ada juga yang mengatakan berasal dari Mesopotamia, Mesir, dan Roma. Namun darimanapun kegiatan akuakultur itu berasal, yang jelas saat ini perkembangan akuakultur terus mengalami peningkatan pesat hingga muncul teknologi-teknologi dan rekayasa yang dapat meningkatkan produksi ikan secara berlimpah.

Latar belakang munculnya kegiatan akuakultur diawali oleh sebuah kondisi bahwa untuk mendapatkan ikan sebagai bahan makanan, manusia harus melakukan kegiatan penangkapan di perairan, baik di perairan tawar, payau maupun laut. Seiring dengan hasil tangkapan yang seringkali tidak menentu dan sangat tergantung oleh kondisi alam, maka muncul pemikiran untuk memelihara ikan di sebuah wadah terkontrol. Ikan-ikan hasil tangkapan alam, dipelihara pada wadah tertentu hingga mencapai ukuran konsumsi yang diharapkan. Saat ini dengan semakin berkembangnya ilmu dan teknologi, proses domestikasi ikan-ikan liar dialam telah dilakukan sehingga ikan-ikan yang dipelihara saat ini tidak lagi berasal dari tangkapan alam. Disamping itu, wadah untuk memelihara ikan juga terdiri dari berbagai jenis dan bentuk diantaranya : kolam tanah, bak semen, keramba jaring apung dan lain sebagainya yang secara prinsip mampu menampung ikan dan sesuai dengan kondisi atau habitat ikan untuk hidup. Kegiatan inilah yang disebut dengan istilah akuakultur. Ada banyak istilah selain akuakultur untuk menyebutkan kegiatan pemeliharan ikan ini diantaranya yaitu perikanan budidaya, budidaya ikan, dan budidaya perairan.

Pada zaman modern sekarang ini dengan jumlah manusia di dunia yang semakin banyak, kegiatan akuakultur menjadi sebuah kebutuhan utama dan gencar dilakukan untuk mencukupi pasokan protein hewani masyarakat di dunia. Kegiatan akuakultur pada dasarnya terbagi atas tiga kegiatan yaitu : kegiatan pembenihan yang bertujuan untuk menghasilkan benih melalui proses pemijahan (perkawinan) induk ikan, kegiatan pendederan berupa pemeliharaan benih hasil perkawinan hingga mencapai ukuran benih siap tebar dan kegiatan pembesaran berupa pemeliharaan benih tebar sampai mencapai ukuran konsumsi. Karena kegiatan akuakultur bertujuan untuk mendapatkan profit, maka dibutuhkan kegiatan pemasaran dan pengolahan hasil ikan sebagai kegiatan pendukung (supporting) yang diperlukan dalam proses akuakultur.

Mengamati perkembangan akuakultur saat ini, semakin disadari bahwa kegiatan akuakultur merupakan kegiatan yang menguntungkan dan bisa merubah nasib hajat hidup orang banyak. Berangkat dari hal tersebut, maka banyak pelaku (stakeholder) akuakultur saat ini berupaya untuk memajukan kegiatan akukultur dengan melakukan riset-riset dan temuan. Hal ini dilakukan karena kegiatan akuakultur tidak hanya sekedar memelihara ikan kemudian memberikan pakan dan selanjutnya panen. Tidak sesederhana itu. Namun kegiatan akuakultur memerlukan teknologi dan metode tertentu untuk mendapatkan hasil yang optimal dan menghindarkan dari gagal panen.

Secara umum kegiatan akuakultur terdiri atas tiga tahapan yaitu input, proses dan output. Input pada kegiatan akuakultur terdiri dari berbagai macam yaitu : Induk atau benih yang berkualitas, pakan dengan nutrisi yang sesuai, kualitas air yang baik, sarana dan prasarana yang mendukung proses budidaya. Sedangkan proses pada kegiatan akuakultur meliputi kegiatan dalam upaya untuk mendapatkan ikan sesuai yang diharapkan seperti : proses pemberian pakan pada ikan, pengobatan terhadap penyakit, pemeliharaan terhadap penyakit. Pada tahapan output, kegiatan yang berlangsung yaitu kegiatan pemanenan dan penjualan ikan yang dihasilkan. Keseluruhan input, proses dan output pada kegiatan akuakultur ini akan menghasilkan outcome berupa profit/keuntungan.

Sentuhan teknologi dibutuhkan dalam setiap tahapan kegiatan akuakultur baik pada input, proses maupun output. Sentuhan teknologi ini disebut dengan istilah bioteknologi. Beberapa teknologi yang dibutuhkan dalam kegiatan akuakultur secara prinsip bertujuan untuk meminimalisasi biaya produksi, mempercepat hasil panen, meminimalisasi ikan yang mati atau gagal panen dengan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup (survival rate), meningkatkan kualitas ikan hasil panen dan juga kuantitasnya. Beberapa bioteknologi dan rekayasa yang dibutuhkan dalam kegiatan akuakultur antara lain : bioteknologi dibidang genetika dan reproduksi ikan, nutrisi, mikrobiologi dan kesehatan ikan, serta sistem teknologi dan kualitas air media budidaya.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut dan memiliki luasan perairan tawar yang tinggi sangat berpotensi dalam mengembangkan akuakultur. Saat ini produksi hasil perikanan budidaya di dunia masih dipegang oleh China. Berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia menempati urutan keempat setelah China, Thailand dan India. Padahal dua pertiga wilayah Indonesia adalah perairan. Hal ini jelas harus mendorong berbagai pihak untuk saling bersinergi dalam mengembangkan kuantitas dan kualitas produk perikanan untuk peningkatan produksi hasil perikanan di Indonesia. Apalagi saat ini pemerintah melalui kementerian kelautan dan perikanan telah mencanangkan peningkatan hasil produksi akuakultur sebesar 353%, maka untuk memenuhi target tersebut kegiatan akuakultur harus gencar dilaksanakan. Oleh karena itu, Pengembangan akuakultur di setiap daerah adalah sebuah kebutuhan dan tuntutan. Segala upaya harus dikerahkan untuk memajukan kegiatan akuakultur, termasuk berdirinya jurusan akuakultur/budidaya perairan di Universitas Provinsi Kepulauan Bangka Belitung!

Akuakultur di Bangka Belitung
Oleh : Eva Prasetiyono, S.Pi, M.Si
Dosen Budidaya Perairan Universitas Bangka Belitung


Akuakultur atau lebih populer disebut dengan istilah perikanan budidaya merupakan kegiatan yang saat ini semakin berkembang di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Profesi dalam membudidayakan ikan menjadi profesi yang cukup menarik dan banyak dijalankan oleh masyarakat baik sebagai hoby, sampingan atau menjadi usaha bisnis. Bisnis akuakultur pada dasarnya terbagi menjadi dua jenis kegiatan budidaya berdasarkan objek atau jenis ikannya. Ada Budidaya ikan hias dan budidaya ikan konsumsi. Budidaya Ikan hias di Bangka Belitung belum begitu berkembang. Pasokan ikan sangat tergantung dari impor daerah luar. Hobiis ikan hias di Bangka Belitung pun tidak banyak dibandingkan daerah luar. Sedangkan budidaya ikan konsumsi merupakan budidaya yang marak dilakukan oleh masyarakat dan semakin menunjukan trend yang positif. Apalagi hal ini didukung oleh banyaknya sumber air yang dapat dijadikan media dalam membudidaya ikan.

Berlimpahnya sumber air yang berasal dari bekas kegiatan penambangan timah(kolong) disatu sisi merupakan masalah namun disisi lain merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan. Masalah kolong muncul karena pada kolong yang baru terbentuk, airnya keruh dan memiliki kualitas air yang buruk untuk dapat dimanfaatkan. Kualitas air pada pada kolong akan semakin baik seiring dengan bertambahnya usia kolong. Peluang untuk memanfaatkan sumber air kolong untuk kegiatan budidaya dapat dilakukan apabila usianya diatas 20 tahun. Karena pada usia kolong yang tua, kualitas air baik kualitas fisik, kimia dan biologi telah memenuhi persyaratan bagi ikan untuk dapat hidup secara optimal. Disisi lain pada kolong tua, ion logam berat yang mungkin terdapat pada kolong akan terendap didasar dan terikat oleh bahan organik matang didasar perairan sehingga logam berat tersebut susah untuk terlepas kembali ke badan perairan.

Pemanfaatan kolong tua untuk kegiatan budidaya telah banyak dilakukan oleh masyarakat. Beberapa masyarakat membuat Keramba Jaring Apung (KJA) pada kolong sebagai cara dalam membudidayakan ikan. Disisi lain ada juga masyarakat yang memanfaatkan sumber air kolong sebagai sumber air untuk dialirkan ke kolam budidaya.

Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan protein hewani yang berkualitas, maka kegiatan budidaya semakin berkembang. Disamping itu, tren masyarakat Bangka yang sudah memulai melirik ikan air tawar sebagai alternatif kelangkaan ikan laut menjadikan peluang majunya sektor budidaya air tawar juga semakin terbuka. Kebutuhan daerah-daerah luar akan pasokan ikan segar air tawar juga menambah peluang semakin majunya sektor perikanan budidaya. Hal ini turut didukung oleh kemampuan para pembudidaya ikan semakin meningkat seiring dengan pengalaman dalam membudidayakan yang semakin bertambah.

Walaupun demikian, akuakultur atau perikanan budidaya di Bangka Belitung belum bisa dikatakan maju. Memajukan perikanan suatu daerah membutuhkan optimalisasi dan sinergitas tiga pilar utama pembangunan perikanan. Tiga pilar tersebut antara lain: Pemerintah Daerah sebagai pengambil kebijakan dan pemegang dana program perikanan, Akademisi (kampus) sebagai pelaku riset, perekayasa teknologi, problem solvermasyarakat dengan tridharma perguruan tingginya, masyarakat pembudidaya ikan sebagai pelaku usaha kegiatan budidaya. Sedangkan pada saat ini tiga pilar dalam membangun perikanan budidaya belum memainkan perannya secara optimal. Hal ini terlihat dari masih banyak persoalan yang dihadapi oleh masyarakat pembudidaya ikan sehingga terkadang menjadikan proses budidaya ikan menjadi stagnan.

Permasalahan utama kegiatan budidaya ikan oleh pembudidaya adalah mahalnya harga pakan ikan. Pakan merupakan kebutuhan utama proses budidaya. Tujuh puluh persen biaya produksi digunakan untuk pembelian pakan. Mahalnya harga pakan ini disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya yaitu monopoli penjualan/supplier pakan dan belum maju atau terkuasainya pembuatan pakan-pakan alternatif bagi ikan.

Masalah lainnya yang seringkali menghambat majunya kegiatan akuakultur di Bangka Belitung yaitu sempitnya daerah pemasaran. Pemasaran merupakan kunci dari kesuksesan hasil produksi budidaya oleh para pembudidaya ikan. Hasil produksi ikan seringkali berlimpah karena panen raya ikan. Hal ini akan mengakibatkan anjloknya harga dan minimnya pembeli. Oleh karena itu informasi pasar atau saluran pemasaran ke luar daerah sangat penting untuk mengatasinya. Disamping itu, sentra pengolahan hasil perikanan juga perlu ada untuk mengolah hasil panen ikan yang berlimpah.

Masalah penting lainnya yaitu kualitas induk dan benih, penyakit dan teknologi budidaya yang seringkali belum dikuasai dengan baik oleh semua pembudidaya ikan. Budidaya ikan tidak selamanya berjalan mulus dan lancar. Seringkali kegagalan panen dialami oleh para pembudidaya ikan yang disebabkan oleh input dan proses budidaya yang tidak sesuai dengan kaidah dalm budidaya ikan. Pada kegiatan budidaya, penggunaan induk dan benih yang berkualitas adalah hal yang sangat penting untuk mempercepat proses pemeliharaan, lebih tahan terhadap penyakit dan lebih tahan terhadap kualitas air yang seringkali fluktuatif. Pemahaman terhadap penyakit ikan pun adalah hal penting untuk melakukan tindakan protektif dan kuratif terhadap penyakit yang muncul. Dukungan teknologi budidaya yang maju dan modern bila tidak diterapkan maka juga akan turut menghambat tingkat keberhasilan proses budidaya.

Berbagai permasalahan yang muncul tersebut tentu saja butuh solusi dan penanganan dari pihak-pihak terkait. Pihak-pihak terkait yang dimaksud yaitu pemerintah daerah, akademisi, dan pembudidaya ikan atau lebih dikenal dengan istilah tiga pilar pembangunan perikanan. Masalah pakan alternatif, kualitas induk dan benih, penyakit dan teknologi budidaya dapat dijadikan tema utama bagi pihak akademisi dalam melakukan riset-riset terapan yang hasilnya bisa diterapkan oleh masyarakat. Peneliti kampus di Jepang sebagai sebuah negara yang maju di sektor perikanannya, telah banyak melepas temuan-temuan pada sektor perikanan budidaya yang mampu menciptakan pakan-pakan alternatif pengganti pelet pabrik, ikan-ikan transgenik yang tahan penyakit, cepat panen dan produktif serta temuan-temuan lainnya. Begitu pula halnya yang diharapkan pada kampus di Indonesia khususnya kampus perikanan yang ada di Bangka Belitung. Kampus diharapkan mampu mengeluarkan riset terapan yang bermanfaat bagi pembudidaya ikan. Tentu saja hal ini harus didukung oleh pendanaan yang memadai.

Semua permasalahan dalam budidaya ikan, disamping ada peran kampus dalam memberikan solusinya, namun tetap bola utamanya ada di pemerintah daerah. Pemerintah dengan segala wewenangnya selayaknyalah selalu berkoordinasi dan mengejewantahkan riset-riset terapan yang dilakukan oleh pihak kampus kepada para pembudidaya ikan. Disamping itu pemerintah juga melalui kuasa anggarannya bisa membuat program-program perikanan yang dibutuhkan masyarakat seperti misalkan : mendirikan pusat informasi pasar dan pusat pengolahan hasil perikanan. Program-program perikanan apapun yang dijalankan pemerintah sudah selayaknyalah tepat sasaran, sejalan dengan riset-riset terapan yang dibutuhkan masyarakat serta menjadi solusi jangka panjang atas berbagai persoalan dalam budidaya ikan. Disisi lain Pembudidaya ikan sebagai aktor utama dalam kegiatan budidaya harus pro aktif dalam melakukan kegiatan budidaya dan intensif berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak kampus dalam memberikan masukan kebutuhan mereka untuk menunjang keberhasilan kegiatan budidaya yang dilakukan. Melalui peran masing-masing pilar perikanan ini diharapkan ada sinergitas pembanguan dan inilah yang akan menjadikan perikanan budidaya di Bangka Belitung semakin maju dan berkembang. Semoga.

*) Dimuat di Kolom Opini Surat Kabar Bangka Pos (Kompas Group) tanggal 20 Maret 2012 

jurusan budidaya perairan

Continue Reading >>

SMK Negeri 4 Pangkalpinnang merupakan salah satu SMK yang memiliki program keahlian bidang budidaya perikanan (menurut spektrum SMK  dinamakan program keahlian agribisnis perikanan). Tahun lalu, terdapat beberapa siswa SMKN 4 Pangkalpinang menanyakan keberadaan jurusan budidaya perairan di UBB melalui guru produktifnya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut terjawab dengan diterimanya secara perdana mahasiswa jurusan budidaya perairan Universitas Bangka Belitung pada tahun akademik 2013 / 2014. Ketertarikan siswa untuk mengetahui lebih mendalam tentang jurusan budidaya perairan di UBB diungkapakn dalam sosialisasi jurusan budidaya perairan di SMKN 4 PAngkalpinang.

Continue Reading >>